Jenis dan Proses Terbentuknya Fosil

By On Saturday, April 6th, 2019 Categories : Lainnya

Jenis dan Proses Terbentuknya FosilPengertian Fosil adalah sisa-sisa, bekas, jejak, atau peninggalan dari makhluk hidup dari zaman purba yang telah membatu dan tertanam dalam tanah.

Jenis dan Proses Terbentuknya Fosil

Jenis dan Proses Terbentuknya Fosil

Kata fosil diambil dari bahasa Latin Kuno fossilis, yang secara literal berarti “diperoleh dengan menggali. Fosil dapat berupa tulang, cangkang, tengkorak, jejak binatang, rambut, peninggalan DNA, dan lain-lain.

Keberadaan fosil membuktikan bahwa kehidupan di bumi telah berkembang dari waktu ke waktu. Fosil berkontribusi banyak dalam penyusunan skala waktu geologi.

Ahli paleontologi (ilmuwan yang mempelajari fosil) membagi fosil secara umum menjadi 2 jenis, yaitu:

  1. Fosil tubuh

Merupakan fosil yang berupa sisa-sisa material dari organisme, misalnya cangkang, gigi, dan tulang yang merupakan bagian keras. Selain itu, ada pula fosil tubuh berupa bagian lunak, seperti jaringan organik dan hewan tanpa tulang. Istilah-istilah ini adalah cara yang berguna untuk membedakan tulang dan jaringan hewan.

  1. Fosil jejak

Mengacu pada fosil yang dibentuk perilaku organisme pada zaman dahulu. Contoh fosil jejak adalah jejak, jalur, liang, pengerekan, sarang, dan koprolit (fosil kotoran). Setiap sisa-sisa organisme dan segala macam jalur atau jejak, bahkan jika ahli paleontologi tidak dapat mengidentifikasinya sebagai tanaman atau aktivitas hewan, akan memenuhi syarat sebagai fosil jika itu dibentuk oleh suatu bentuk kehidupan dari waktu geologi sebelumnya.

Fosil terbentuk dengan berbagai macam proses, tergantung pada jenis jaringan dan kondisi eksternal. Berikut ini merupakan proses terbentuknya fosil:

  1. Permineralisasi

Proses terbentuknya fosil ketika organisme terkubur. Rongga kosong pada tubuh organisme, yang sebelumnya diisi dengan gas atau cairan ketika hidup, menjadi penuh terisi dengan air tanah yang kaya mineral. Mineral ini mengendap, dan kemudian menempati rongga-rongga kosong tersebut.

Proses ini bahkan dapat terjadi dalam tempat sangat kecil, seperti dinding sel. Organisme harus segera dikubur oleh sedimen setelah mati. Jika tidak, pembusukan akan terjadi.

Apa yang tersisa dari pembusukan menentukan fosil yang terbentuk nantinya. Oleh karena itu, beberapa fosil hanya tersisa tengkorak atau giginya, sementara fosil lainnya masih mempunyai kulit, bulu, hingga jaringan halus.

  1. Casts and molds

Terkadang bagian tubuh organime yang telah mati hancur atau busuk sepenuhnya. Lubang berbentuk organisme tersebut pada batu adalah cetakan eksternal (external mold).

Apabila lubang ini kemudian terisi oleh mineral lain, ia menjadi gips (casts). Sebuah cetakan internal atau endocast akan terbentuk apabila sedimen atau mineral mengisi rongga internal suatu organisme, misalnya bagian dalam cangkang siput.

  1. Rekristalisasi

Proses terbentuknya fosil ketika satu jenis mineral mengkristal ke berbagai jenis mineral lainnya. Contohnya, cangkang yang tersusun dari mineral aragonit akan merekristalisasikan mineral kalsit dalam prosesnya.

Kebanyakannya adalah keong, kerang, kelompok cumi, dan koral dari era Mesozoikum dan Kenozoikum. Mineral aragonit dan kalsit tersusun atas komposisi kimia yang sama (CaCO3), tetapi kalsit memiliki struktur kristal yang stabil.

  1. Karbonisasi

Terjadi apabila suatu jasad organisme terkubur dengan cepat sebelum membusuk. Lapisan sedimen terendapkan dengan cepat di atasnya, mengubur jasad organisme lebih dalam.

Kemudian, semua material yang mudah menguap dipanaskan oleh panas bumi, dan menyisakan carbon film. Contoh karbonisasi adalah fosil daun.

Jenis dan Proses Terbentuknya Fosil | ituseo | 4.5